Fana bukan band yang dibangun dari ambisi besar atau rencana yang rapi. Mereka tumbuh dari perjalanan yang pelan, penuh ragu, kadang tersesat, namun justru di situ mereka menemukan bentuknya. “Path” lahir dari fase ketika seseorang terlalu letih untuk berlari, tapi masih punya alasan untuk terus melangkah. Lagu ini bukan tentang garis finis melainkan tentang langkah-langkah kacau yang tetap diambil saat dunia tak memberi petunjuk apa pun.
Fana adalah rumah bagi segala rasa bingung dan suara-suara yang sulit dijelaskan. Mereka mengangkat hal yang paling manusiawi: memilih jalan di tengah kebisingan, menghadapi diam yang justru lebih bising daripada keramaian.
Band ini berawal dari obrolan ringan, curhatan yang menumpuk, dan lagu-lagu yang saling dibagi. Dari situ Duffon Rofie Alserazi dan Wirawan Hendra memulai sesuatu yang tak bisa ditahan sendiri. Lalu hadir Naqisha Shelovin dan Firas Alan, disusul Azka Maulana Syarief, Bizhak Devasurya, dan Ghatan membentuk lingkar pertemanan yang akhirnya dinamai Fana. Sebuah kata yang berarti “tidak abadi”, sebagai pengingat bahwa segala hal akan berlalu, kecuali jejak kecil yang kita tinggalkan.
“Path” adalah cermin dari masa ketika hidup terasa kabur. Lagu ini menceritakan seseorang yang tetap berjalan meski tak tahu arahnya. Tidak menawarkan motivasi palsu, tidak menutupinya dengan akhir bahagia. Hanya kejujuran tentang bertahan, bahkan saat rasa yakin pun sudah memudar.
Liriknya seperti percakapan sunyi dengan diri sendiri tentang langkah yang gemetar, waktu yang melaju cepat, dan bayang-bayang masa lalu yang tak benar-benar pergi. “Path” tidak memberi solusi. Ia hanya membuka ruang untuk diam, berpikir, dan merasakan. Ia hadir untuk mereka yang berada di persimpangan yang sama.
“Path” kini sudah bisa didengarkan di seluruh platform digital seperti Spotify dan YouTube Music.
Artwork Lagu “Path”








Leave a Reply