Unit grindcore asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, DEDWËG, resmi memperkenalkan demo perdana bertajuk KIAMAT SUGHRO. Berisi tiga komposisi berjudul “TSUNAMI17”, “KALIBRASI”, dan “LOVE.”, rilisan ini menjadi dokumentasi awal bagaimana DEDWËG menerjemahkan kegelisahan, kehancuran, hingga absurditas kehidupan modern ke dalam ledakan suara yang mentah dan tanpa kompromi.
Melalui tempo yang membabi buta, distorsi kasar, blast beat yang menghantam, serta jeritan vokal penuh kemarahan, KIAMAT SUGHRO tidak hadir sebagai hiburan semata. Demo ini merupakan manifestasi dari keresahan kolektif terhadap dunia yang perlahan kehilangan arah, sekaligus penanda lahirnya identitas musikal DEDWËG di skena musik ekstrem Indonesia.
KIAMAT SUGHRO Menjadi Potret “Kiamat Kecil” dalam Kehidupan Manusia

Alih-alih menawarkan jawaban atau harapan, KIAMAT SUGHRO justru menjadi representasi dari perjalanan manusia yang berusaha menemukan secercah cahaya di tengah dunia yang telah porak-poranda.
Setiap lagu dalam demo ini saling terhubung sebagai bagian dari narasi besar mengenai kehancuran, pencarian makna, hingga upaya bertahan di tengah realitas yang semakin absurd.
Bagi DEDWËG, kiamat tidak selalu hadir sebagai bencana besar. Ia dapat muncul dalam bentuk kelelahan mental, tekanan sosial, kehilangan arah, maupun kehancuran nilai-nilai yang perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Demo ini menjadi sebuah “kiamat kecil” yang diterjemahkan melalui kebisingan dan agresivitas musik.
Grindcore, Black Metal, D-Beat, hingga Screamo Melebur Menjadi Identitas DEDWËG
Secara musikal, DEDWËG berakar kuat pada grindcore, namun tidak membatasi diri hanya pada satu spektrum ekstrem.
Karakter musik mereka lahir dari pertemuan berbagai pengaruh seperti:
- Grindcore
- Black Metal
- Hardcore Punk
- D-Beat
- Metal
- Screamo
Perpaduan tersebut menghasilkan komposisi yang liar, cepat, gelap, dan penuh tekanan emosional.
Blast beat yang konstan, riff kasar, hingga vokal penuh teriakan menjadi representasi dunia yang perlahan runtuh tanpa mampu dihentikan.
Bagi DEDWËG, kebisingan bukan sekadar estetika, melainkan bahasa untuk menyampaikan kegelisahan.
Lirik Absurd sebagai Bentuk Perlawanan terhadap Realitas
Di balik agresivitas musiknya, DEDWËG justru memilih pendekatan lirik yang tidak selalu serius.
Band ini memandang absurditas sebagai cara paling jujur untuk merespons kehidupan.
Bahasa Indonesia, Sunda, hingga Inggris dipadukan secara bebas menjadi permainan kata yang unik, nyeleneh, namun tetap menyimpan kritik sosial yang tajam.
Pendekatan tersebut menjadi pembeda dibanding banyak unit grindcore lainnya.
Alih-alih hanya menampilkan kemarahan, DEDWËG justru mengajak pendengar menertawakan kehancuran yang terjadi di sekitar mereka.
Karena bagi mereka, dunia yang kacau terkadang terlalu absurd untuk disikapi secara biasa.
Direkam Mandiri dengan Semangat DIY
Seluruh materi KIAMAT SUGHRO diproduksi secara independen sebagai bentuk komitmen terhadap kultur DIY (Do It Yourself).
Instrumen direkam secara sederhana di rumah Filah, sementara sesi vokal dilakukan di rumah Sidqiii tepat pada malam 1 Suro.
Pemilihan waktu tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan menjadi bagian dari atmosfer yang ingin dibangun dalam demo ini.
Tidak ada upaya memperhalus suara ataupun menghilangkan ketidaksempurnaan.
Semua dibiarkan kasar, mentah, dan apa adanya.
Justru dari situlah identitas DEDWËG lahir.
DEDWËG Tidak Menawarkan Kenyamanan
Melalui KIAMAT SUGHRO, DEDWËG tidak berusaha menjadi musik yang mudah dicerna.
Mereka tidak menawarkan kenyamanan.
Sebaliknya, demo ini menjadi bentuk konfrontasi terhadap kenyataan yang sering kali diabaikan.
Suara-suara bising yang mereka hasilkan merupakan representasi dari manusia yang hidup di tengah kekacauan, menyaksikan dunia perlahan hancur, namun tetap memilih berjalan melewati semua itu.
Tentang DEDWËG
DEDWËG merupakan unit grindcore asal Ciwidey, Kabupaten Bandung, yang terbentuk sekitar tahun 2020.
Nama DEDWËG berasal dari permainan frasa bahasa Inggris Death Weight, yang berarti beban kematian. Nama tersebut menjadi simbol berbagai tekanan, kehancuran, dan kegelisahan yang terus membayangi kehidupan manusia.
Band ini diperkuat oleh:
- SALAZAR — Guitar
- Tigaenam — Drum
- APOKALIPSXYZ — Vocal
Menggabungkan grindcore dengan pengaruh black metal, hardcore punk, D-beat, screamo, dan metal, DEDWËG menghadirkan ledakan musik ekstrem yang cepat, mentah, brutal, namun tetap menyisipkan sisi absurd dalam setiap karya mereka.
Bagi DEDWËG, kehancuran tidak selalu harus diratapi.
Kadang, kehancuran justru layak ditertawakan.







Leave a Reply