Skena musik independen Indonesia kembali kedatangan pendatang baru dengan konsep yang cukup unik. Berasal dari Denpasar, Bali, Genzai resmi memperkenalkan identitas musikal mereka melalui single debut “Re:Ignite”, sebuah lagu yang menggabungkan energi agresif metalcore, melodi emosional khas J-Rock, serta sentuhan elektronik yang modern.
Dirilis pada 17 Juli 2026, Genzai Re:Ignite bukan sekadar lagu pembuka, melainkan langkah pertama menuju EP konseptual bertajuk Full Circle, yang mengangkat perjalanan emosional para penikmat kultur Jepang dalam kehidupan sehari-hari.
Mengusung semangat eksploratif dan identitas yang kuat, Genzai hadir membawa warna baru di tengah berkembangnya skena metalcore Indonesia.
Dari Band Cover Menuju Identitas Orisinal
Perjalanan Genzai tidak dimulai sebagai band yang langsung menciptakan lagu sendiri. Sebelumnya, mereka aktif membawakan lagu-lagu bertema Jepang di berbagai event pop culture di Denpasar.
Band ini terdiri dari lima personel dengan latar belakang yang saling beririsan.
Formasi Genzai:
- Wahyu — Vocal
- Yudi — Vocal
- Eman — Guitar
- Febry — Bass
- Edo — Drum
Yudi dan Febry merupakan personel band pop-punk Night Story, sedangkan Wahyu dan Eman berasal dari band metalcore Nightmare On Stage. Sementara Edo menjadi sosok yang menghubungkan kedua proyek tersebut karena bermain sebagai drummer di keduanya.
Pertemuan mereka bermula dari proyek Kingslayer yang tampil sebagai penutup acara Area Creator #4 by Creha Project pada Januari 2025. Dari pengalaman tersebut muncul keinginan untuk menciptakan karya orisinal yang benar-benar merepresentasikan kecintaan mereka terhadap musik keras sekaligus budaya Jepang.
Setelah menjalani proses kreatif selama sekitar enam bulan, Genzai akhirnya siap memulai perjalanan baru melalui single “Re:Ignite”.
“Re:Ignite”, Lagu Tentang Menemukan Dunia Baru Lewat Kultur Jepang
Single “Re:Ignite” menjadi bagian pertama dari EP Full Circle, sebuah rilisan konseptual yang mengangkat tema Five Stages of Weeb.
Konsep tersebut diadaptasi dari teori Five Stages of Grief, namun diterjemahkan menjadi perjalanan seseorang dalam menikmati budaya Jepang. Mulai dari fase ketika dianggap “aneh” oleh lingkungan sekitar, menikmati hobi secara diam-diam, hingga akhirnya mampu menerima dirinya sendiri tanpa lagi memedulikan stigma sebagai seorang “wibu”.
Melalui “Re:Ignite”, Genzai ingin menunjukkan bahwa anime, manga, cosplay, game, maupun berbagai produk budaya Jepang dapat menjadi pintu menuju dunia baru. Sebuah ruang yang memberikan inspirasi, komunitas, hingga pelarian dari kerasnya realitas kehidupan.
Menurut Wahyu, proses penulisan lagu ini lahir dari pengalaman pribadinya saat pertama kali mengenal anime dan manga ketika duduk di bangku SMA.
“Lagu ini aku tulis dengan mengingat pengalamanku saat zaman SMA, saat mulai terpapar anime dan manga. Tantangan terbesarnya adalah menyatukan pengalaman kami menjadi satu cerita, termasuk menulis lirik dalam bahasa Jepang hanya bermodalkan menonton anime,” ungkap Wahyu.
Metalcore Modern dengan Sentuhan Elektronik Identitas Musik Genzai yang Berbeda
Secara musikal, Genzai Re:Ignite menghadirkan perpaduan yang cukup segar.
Inspirasi mereka datang dari dua nama besar yang memiliki karakter berbeda, yakni:
- Fear, and Loathing in Las Vegas
- ONE OK ROCK
Dari Fear, and Loathing in Las Vegas, Genzai mengadopsi karakter chaotic, elektronik, serta dinamika musik yang eksplosif.
Sementara ONE OK ROCK memberi pengaruh pada sisi melodis, emosional, dan anthemik yang terasa kuat sepanjang lagu.
Hasilnya adalah perpaduan:
- Breakdown metalcore
- Synth elektronik
- Melodi J-Rock
- Vokal emosional
- Nuansa modern rock
Karakter tersebut membuat “Re:Ignite” mampu menjangkau dua komunitas sekaligus, yakni penikmat musik keras dan pecinta kultur Jepang.
Diproduksi Secara Independen
Meski menjadi rilisan perdana, proses produksi “Re:Ignite” dikerjakan dengan cukup matang.
Instrumental, sequencer, hingga sound effect diproduksi secara mandiri oleh Febry Gia dan Emanda Pramana.
Sementara tahap rekaman vokal, mixing, dan mastering dipercayakan kepada Bayu Pramasatya dari Pizza Record.
Kombinasi tersebut menghasilkan produksi yang terdengar padat, modern, namun tetap mempertahankan karakter emosional lagu.
Kredit Produksi
- Songwriter: Febry Gia, Emanda Pramana, Edo Prasetia
- Lyric: Wahyu PW & Yudiastra Wira
- Production: Febry Gia & Emanda Pramana
- Mixing & Mastering: Bayu Pramasatya (Pizza Record)
Genzai Siap Membuka Babak Baru “Re:Ignite” Menjadi Awal Perjalanan yang Lebih Besar
Bagi Genzai, “Re:Ignite” bukan hanya sebuah single debut.
Lagu ini menjadi fondasi dari keseluruhan cerita yang akan dibangun dalam EP Full Circle. Setiap single nantinya akan merepresentasikan fase berbeda dalam perjalanan menerima diri sendiri sebagai penikmat kultur Jepang, sekaligus menggambarkan proses pendewasaan seseorang di tengah tekanan sosial.
Dengan identitas yang kuat, konsep yang matang, serta eksplorasi musikal yang berani, Genzai menjadi salah satu nama baru yang layak mendapat perhatian dalam perkembangan musik independen Indonesia.
Tentang Genzai

Genzai merupakan band metalcore asal Denpasar, Bali, yang terbentuk pada 2025. Band ini beranggotakan Yudi (vokal), Wahyu (vokal), Eman (gitar), Febry (bass), dan Edo (drum). Menggabungkan pengaruh metalcore modern, J-Rock, J-Metal, dan elektronik, Genzai menghadirkan identitas musikal yang terinspirasi oleh kultur Jepang. Single debut “Re:Ignite” menjadi langkah awal menuju EP konseptual Full Circle, yang mengangkat perjalanan emosional para penikmat budaya Jepang dalam menemukan identitas dan penerimaan diri.
Sosial Media dan Streaming Genzai
- Instagram: @thisisgenzai
- Tiktok: @thisisgenzai
- Spotify: Genzai
- Youtube: Genzai Band








Leave a Reply