loader image

Hornd Anodyne Ledakkan Kemarahan atas Kepalsuan dan Pencitraan Lewat Single Kedua “Bootlicker”

•

Unit heavy metal asal Jakarta, Hornd Anodyne, kembali menyalakan bara distorsi melalui single kedua mereka yang bertajuk “Bootlicker”. Masih berpijak pada fondasi heavy metal klasik yang kuat, lagu ini menjadi luapan amarah terhadap kemunafikan, pencitraan, dan perilaku manipulatif yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Lewat riff gitar yang tajam, dentuman ritmis yang menghentak, serta vokal penuh intensitas, Hornd Anodyne menghadirkan karya yang tidak hanya keras secara musikal, tetapi juga menyimpan kritik sosial yang lugas.


“Bootlicker”: Kritik terhadap Topeng Moral dan Pencitraan

Melalui “Bootlicker”, Hornd Anodyne mengangkat sosok yang tampil seolah paling bermoral, penuh empati, dan selalu berada di pihak yang benar, namun sesungguhnya hanya mengejar pengakuan, validasi, atau keuntungan pribadi.

Lagu ini lahir dari rasa muak terhadap kepura-puraan yang dibungkus dengan citra kebaikan. Hornd Anodyne melihat fenomena tersebut semakin sering hadir dalam berbagai lapisan kehidupan, mulai dari lingkungan sosial hingga ruang publik.

“Bootlicker lahir dari rasa muak terhadap orang-orang yang menjadikan kepura-puraan sebagai alat untuk mencari perhatian atau keuntungan. Mereka terlihat seolah berada di pihak yang benar, padahal semua itu hanya topeng. Kami ingin lagu ini menjadi pengingat bahwa ketulusan tidak perlu dipertontonkan, dan integritas tidak dibangun dari pencitraan,” ungkap Hornd Anodyne.

Alih-alih menyampaikan kritik secara halus, band ini memilih jalur heavy metal yang langsung, keras, dan tanpa kompromi.


Distorsi Agresif dan Energi Heavy Metal yang Tetap Konsisten

Secara musikal, “Bootlicker” mempertahankan identitas utama Hornd Anodyne: heavy metal yang padat, agresif, dan penuh tenaga.

Distorsi gitar dari Reyhan dan Niko menjadi fondasi utama lagu, diperkuat oleh permainan drum eksplosif dari Yudhis serta hentakan bass milik Andi, yang sekaligus mengisi posisi vokal.

Komposisi lagu dibuat lugas, tanpa banyak ornamen yang berlebihan. Setiap bagian dirancang untuk mempertegas emosi berupa kekecewaan, amarah, hingga rasa jijik terhadap kepalsuan yang diangkat dalam lirik.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa bagi Hornd Anodyne, heavy metal bukan hanya soal kekuatan suara, melainkan juga medium untuk menyuarakan keresahan yang nyata.


Hornd Anodyne: Persahabatan Lama yang Menjelma Menjadi Ledakan Distorsi

Meski baru resmi terbentuk pada akhir 2024, kisah Hornd Anodyne sebenarnya dimulai jauh lebih lama.

Para personelnya Sihduy (drum), Andi (bass/vokal), Niko (gitar), dan Reyhan (gitar) telah saling mengenal sejak masa kuliah di sebuah institut seni di Jakarta sekitar tahun 2014. Masing-masing sempat memiliki proyek musik sendiri sebelum akhirnya dipertemukan kembali satu dekade kemudian.

Kesamaan kecintaan terhadap rock dan heavy metal menjadi alasan utama mereka membangun Hornd Anodyne.

Band ini lahir bukan sekadar untuk menciptakan musik, tetapi juga sebagai ruang untuk melepaskan energi negatif, membangun pertemanan baru, dan menikmati kebebasan berekspresi melalui distorsi yang keras dan jujur.


Tentang Hornd Anodyne

Hornd Anodyne adalah unit heavy metal asal Jakarta yang terbentuk pada akhir 2024. Beranggotakan Andi (bass/vokal), Niko (gitar), Reyhan (gitar), dan Sihduy/Yudhis (drum), mereka menghadirkan musik heavy metal yang menggabungkan energi agresif dengan tema-tema yang berangkat dari fenomena sosial dan pengalaman sehari-hari.

Melalui pendekatan yang lugas dan tanpa kompromi, Hornd Anodyne menjadikan musik sebagai medium untuk meluapkan emosi, menyampaikan kritik, sekaligus menjaga semangat heavy metal tetap hidup.


Sosial Media dan Streaming Hornd Anodyne


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *