loader image

Cherrywise Tuangkan Frustrasi yang Tak Kunjung Usai Lewat “Are We Done Yet?”

•

Ada titik ketika kompromi bukan lagi jalan keluar.

Terlalu sering mengalah, terlalu lama menahan perasaan, sementara persoalan yang sama terus berputar tanpa pernah benar-benar selesai. Dari situ, kesabaran perlahan berubah menjadi frustrasi.

Situasi tersebut menjadi napas utama “Are We Done Yet?”, single ketiga dari Cherrywise yang resmi dirilis pada 27 Agustus 2026.

Unit indie-pop asal Bali ini menjadikan lagu tersebut sebagai potret sederhana tentang kelelahan emosional ketika seseorang terus berusaha memahami, tetapi merasa dirinya sendiri tidak pernah benar-benar dipahami.

Bukan hanya tentang hubungan romantis, persoalan yang dibawa Cherrywise terasa lebih luas. Perbedaan persepsi, ego, komunikasi yang tidak menemukan waktu yang tepat, hingga kompromi yang terasa berjalan satu arah bisa muncul dalam pertemanan maupun lingkungan pekerjaan.

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi siapa yang benar dan siapa yang salah.

Melainkan “sampai kapan semua ini harus terus berlangsung?”

“Are We Done Yet?” Lahir dari Kesabaran yang Mulai Habis

Bagi Cherrywise, lagu ini berangkat dari pengalaman personal tentang situasi ketika seseorang berusaha mempertahankan keadaan dengan terus bersabar.

Namun kesabaran memiliki batas.

Ada keinginan untuk mengungkapkan perasaan, tetapi kesempatan dan waktu selalu terasa tidak tepat. Perasaan tersebut akhirnya menumpuk dan berubah menjadi emosi.

“Berasal dari cerita pribadi yang ternyata sabar itu capek. Terus-terusan ngalah, ingin mengungkapkan perasaan tapi selalu timingnya ga pernah cocok. Sampai akhirnya jadi emosi,” tutur Atisha, vokalis sekaligus salah satu penulis lirik Cherrywise.

Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan menjadi lagu yang tidak berusaha menyembunyikan rasa kesalnya.

Justru sebaliknya, Cherrywise membiarkan frustrasi itu terdengar apa adanya.

Tidak Dibuat Terlalu “Emo”, Cherrywise Memilih Energi yang Lebih Lepas

Menariknya, tema yang cukup berat tidak diterjemahkan Cherrywise melalui pendekatan musik yang murung.

“Are We Done Yet?” tetap berdiri di atas fondasi alternative-indie pop, tetapi kali ini dibawa menuju energi yang lebih eksplosif dengan sentuhan early-2000s pop, pop-punk, dan teenage summer tunes.

Hasilnya justru terasa kontras.

Lagu membicarakan kejenuhan, ego, dan rasa frustrasi, tetapi musiknya bergerak dengan energi yang ringan, noisy, sedikit chaotic, dan tetap catchy.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu kekuatan Cherrywise dalam rilisan ini.

Alih-alih menjadikan emosi sebagai sesuatu yang berat dan melodramatis, mereka mengubahnya menjadi sebuah bentuk pelepasan.

“Pengen garap lagu yang on-point aja sih, terlebih lagu ini seharusnya ditujukan buat menyampaikan rasa kesel yang memuncak secara apa adanya,” ujar Chandra, drummer Cherrywise.

“Huh… I’m Done With This Shit” Saat Kompromi Akhirnya Pecah

Salah satu elemen paling menarik dari “Are We Done Yet?” muncul melalui monologue di bagian tengah lagu.

Ketika energi musik bergerak menuju titik pelepasan, muncul kalimat

“Huh… I’m done with this shit.”

Kalimat tersebut terasa seperti representasi langsung dari seseorang yang sudah terlalu lama mencoba bertahan.

Cherrywise kemudian memperkuat gagasan tersebut melalui repetisi “Are we done yet?” yang muncul ketika musik memasuki bagian interlude dan outro.

Di bagian ini, lagu justru memberikan ruang bagi rasa lelah untuk berbicara.

Tidak lagi agresif. Tidak lagi berusaha menjelaskan siapa yang salah.

Hanya sebuah pertanyaan yang terus berulang setelah terlalu lama berkompromi.

Single Ketiga Menuju “Between Doubts”

“Are We Done Yet?” bukan rilisan yang berdiri sendiri.

Single ini menjadi bagian dari perjalanan Cherrywise menuju debut extended play bertajuk “Between Doubts”, yang ditargetkan hadir secara global pada kuartal keempat 2026.

EP tersebut dibangun dari gagasan tentang ketegangan antara perasaan dan pemahaman.

Alih-alih buru-buru memberikan jawaban, Between Doubts memilih tinggal lebih lama di dalam ruang keraguan, penantian, rasa ingin tahu, dan penerimaan yang perlahan.

Lima materi yang diproyeksikan mengisi EP tersebut adalah

  1. Wishing Well — tentang harapan rapuh dan seseorang yang berdiri di persimpangan sambil mempertanyakan arah yang dipilih.
  2. Someday, Maybe… — perjalanan introspektif ketika pikiran yang gelisah mencari ketenangan.
  3. Are We Done Yet? — tentang kelelahan emosional, usaha yang terasa salah tempat, dan kata-kata yang tidak pernah tersampaikan.
  4. Force to Shine — berada di antara bayang-bayang dan cahaya ketika rasa takut serta kasih sayang mulai sulit dibedakan.
  5. My Obsession — ketegangan antara ambisi dan isolasi ketika keinginan semakin besar, sementara koneksi terasa semakin jauh.

Dari kelima materi tersebut, Cherrywise ingin memperkenalkan indie-pop yang mereka miliki ke dalam palet alternative yang lebih bising, namun tetap terasa menyenangkan dan tidak kehilangan sisi playful.

Diproduksi dengan Semangat Do It Yourself

Semangat Do It Yourself (DIY) tetap menjadi bagian penting dalam proses pengerjaan “Are We Done Yet?”.

Produksi lagu ditangani oleh Chandra Raditya dan Crespo Mahesa, sementara proses mixing dan mastering dipercayakan kepada Elmo Ramadhan.

Pendekatan tersebut memungkinkan Cherrywise mempertahankan karakter produksi yang dekat dengan identitas mereka yaitu tidak terlalu steril, tetap memiliki tekstur, dan memberi ruang bagi elemen noise serta dinamika musik untuk berkembang.

Untuk melengkapi rilisan audio, Cherrywise juga menyiapkan materi visual yang dijadwalkan hadir pada Jumat, 4 September 2026 melalui kanal YouTube mereka.

Tentang Cherrywise

Cherrywise merupakan unit indie-pop asal Bali yang mempertemukan empat personel dengan latar belakang berbeda dalam satu pendekatan musikal yang memadukan pop dengan alternative yang lebih noisy.

Band ini terdiri dari Crespo pada gitar, Atisha pada vokal, Chandra pada drum, dan Arwin pada bass.

Musik Cherrywise bergerak di antara indie-pop, indie-rock, alternative, dan bedroom-pop intimacy. Melodi yang pop-oriented dipertemukan dengan fuzz, noise, eksperimen tekstur, serta dinamika loud-soft.

Mereka menggambarkan musiknya sebagai sesuatu yang terasa current namun tetap rooted, emosional tanpa harus terlalu memaksakan emosi.

Para personelnya juga memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas di skena kreatif Bali. Chandra dikenal melalui proyek Astera, Arwin merupakan pendiri Sloji, Atisha bergerak di antara dunia dance dan fashion, sementara Crespo dikenal sebagai gitaris yang terus mengeksplorasi riff, tone, dan tekstur baru.

Bersama Cherrywise, seluruh latar tersebut bertemu dalam satu formula pop sensibility yang dibawa menuju wilayah alternative yang lebih bising, mentah, dan playful.

Streaming & Sosial Media Cherrywise

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *