loader image

Aesthetic City Club Bawa Romantisme 90-an ke “Kaleidoscope”, EP Perdana yang Penuh Warna

•

Nostalgia tidak selalu berarti kembali ke masa lalu.

Bagi Aesthetic City Club, nostalgia justru menjadi bahan untuk membangun sesuatu yang baru.

Unit pop/indie asal Bali ini resmi memperkenalkan “Kaleidoscope”, EP perdana yang dirilis pada 28 Agustus 2026. Berisi lima lagu, rilisan ini menjadi langkah penting bagi Aesthetic City Club dalam memperkenalkan identitas musikal mereka secara lebih utuh.

Setelah sebelumnya membuka perjalanan melalui single debut “Zephyr Heart” pada awal Juli 2026, Aesthetic City Club kini memperluas lanskap suaranya lewat kombinasi dream pop, disco, dan rock.

Hasilnya adalah sebuah rilisan yang membawa atmosfer romantis khas era 90-an, tetapi dikemas dengan pendekatan produksi dan karakter sonik yang lebih modern.

“Kaleidoscope” Menjadi Ruang untuk Menyatukan Masa Lalu dan Masa Kini

Aesthetic City Club tidak mencoba merekonstruksi musik era 90-an secara mentah.

Alih-alih, mereka mengambil nuansa dan romantismenya sebagai fondasi untuk membangun karakter musik sendiri.

Dalam “Kaleidoscope”, elemen dream pop memberikan atmosfer yang lembut dan mengawang, sementara sentuhan disco dan rock membuat keseluruhan materi tetap bergerak dan memiliki energi.

Perpaduan tersebut menciptakan identitas yang terasa hangat, kontemplatif, sekaligus penuh warna.

Seperti sebuah kaleidoskop, setiap lagu menghadirkan bentuk dan warna yang berbeda, tetapi tetap menjadi bagian dari satu keseluruhan.

“Low Tides Reverie” Menjadi Titik Utama Perjalanan

Di antara lima lagu yang terdapat dalam EP ini, “Low Tides Reverie” dipilih sebagai focus track.

Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Lagu ini dianggap paling mampu merepresentasikan ekosistem musikal yang dibangun Aesthetic City Club melalui “Kaleidoscope”.

“Low Tides Reverie” dibuka dengan karakter vokal mendayu dari Nitya Putrini, kemudian berkembang melalui permainan gitar dari Muhammad Rizky atau Kidz dan Laila.

Fondasi ritmisnya diperkuat oleh permainan drum Jonathan Rizky alias Jory, sementara Rangga mengisi bass yang menyatukan berbagai lapisan instrumen tersebut.

Hasil akhirnya adalah komposisi yang terasa luas dan atmosferik, namun tetap memiliki struktur pop yang mudah diikuti.

Dari “Zephyr Heart” Menuju “Kaleidoscope”

Sebelum EP ini hadir, Aesthetic City Club terlebih dahulu memperkenalkan diri melalui “Zephyr Heart”.

Single tersebut menjadi pintu masuk menuju karakter musikal mereka.

Kini, melalui “Kaleidoscope”, karakter tersebut diperluas menjadi sebuah karya yang lebih komprehensif.

Lima lagu di dalamnya memperlihatkan bagaimana Aesthetic City Club mencoba memainkan berbagai warna tanpa meninggalkan benang merah utama mereka yaitu melodi pop yang kuat, atmosfer yang hangat, serta perpaduan suara retro dan kontemporer.

Lima Lagu dalam Satu “Kaleidoscope”

  1. Blossom
  2. Zephyr Heart
  3. Sweet Summer Dream
  4. Tanda
  5. Low Tides Reverie

Kelima lagu tersebut menjadi representasi awal perjalanan Aesthetic City Club sekaligus fondasi bagi eksplorasi mereka ke depan.

Jika “Zephyr Heart” menjadi pembuka perkenalan, maka “Low Tides Reverie” memperlihatkan bagaimana identitas tersebut berkembang ketika ditempatkan dalam format EP.

Aesthetic City Club dan Cara Mereka Meramu Nostalgia

Aesthetic City Club berdiri di persimpangan antara pop yang melodis dan eksplorasi alternatif yang lebih bebas.

Mereka mempertemukan dream pop, indie pop, disco, dan rock dalam sebuah pendekatan yang tidak terlalu berat namun tetap memiliki karakter.

Kekuatan mereka justru berada pada kemampuan menjaga keseimbangan.

Musiknya bisa terasa nostalgik tanpa terdengar kuno.

Bisa terdengar modern tanpa kehilangan kehangatan.

Dan bisa emosional tanpa harus menjadi berlebihan.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Aesthetic City Club dalam “Kaleidoscope”.

“Kaleidoscope” dan Langkah Baru Aesthetic City Club

Sebagai EP perdana, “Kaleidoscope” menjadi lebih dari sekadar kumpulan lima lagu.

Rilisan ini merupakan pernyataan awal tentang bagaimana Aesthetic City Club ingin terdengar.

Mereka mengambil romantisme retro, memasukkannya ke dalam pendekatan produksi modern, kemudian membiarkan dream pop, disco, dan rock bertemu dalam satu ruang.

Dari Bali, Aesthetic City Club menawarkan sebuah warna yang hangat, nostalgik, tetapi tetap relevan dengan lanskap musik hari ini.

Dan “Kaleidoscope” bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Tentang Aesthetic City Club

Aesthetic City Club merupakan unit pop/indie asal Bali yang diperkuat oleh Nitya Putrini, Muhammad Rizky (Kidz), Laila, Rangga, dan Jonathan Rizky (Jory).

Musik mereka mempertemukan nostalgia retro dengan lanskap audio kontemporer melalui perpaduan dream pop, disco, rock, dan indie pop.

Dengan karakter musik yang hangat, kontemplatif, dan kaya warna, Aesthetic City Club menjadikan setiap karya sebagai ruang untuk mengeksplorasi melodi, atmosfer, dan emosi.

Sosial Media dan Streaming Aesthetic City Club

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *