Setelah berbicara tentang perjuangan manusia lewat “Glory Is Near” dan “Struggle Day”, kemudian melontarkan kritik melalui “Broken Nation”, FASELIMA kini membawa narasinya ke wilayah yang jauh lebih konfrontatif.
Band screamo/emo/post-hardcore asal Sidoarjo ini merilis “Conspiracy”, single keempat yang sekaligus menjadi babak paling berani dalam rangkaian rilisan mereka sejauh ini.
Dirilis bersama Official Music Video pada 4 September 2026, “Conspiracy” tidak lagi sekadar bicara tentang bagaimana manusia bertahan menghadapi tekanan. Lagu ini mempertanyakan siapa yang menciptakan tekanan tersebut dan bagaimana sebuah sistem dapat membentuk cara manusia melihat dunia.
Bagi FASELIMA, ada sesuatu yang salah ketika kekuasaan dibangun di atas keserakahan, fakta dapat diputarbalikkan, dan generasi muda justru diarahkan pada berbagai bentuk kesenangan semu.
Di situlah “Conspiracy” bekerja.
Bukan sebagai lagu untuk mencari jalan aman, melainkan sebagai bentuk perlawanan.
Dari Bertahan Menjadi Melawan

Empat single FASELIMA memiliki benang merah yang cukup jelas.
“Glory Is Near” memperkenalkan gagasan tentang harapan dan perjuangan. “Struggle Day” membawa cerita tentang kelelahan manusia sehari-hari sekaligus mengambil inspirasi dari semangat perjuangan rakyat Palestina. Kemudian “Broken Nation” bergerak lebih jauh dengan kritik terhadap negara yang dianggap gagal melindungi rakyatnya.
Kini, “Conspiracy” mengambil posisi yang berbeda.
Kalau sebelumnya FASELIMA berbicara tentang bertahan, kali ini mereka memilih untuk mempertanyakan.
Lagu ini lahir dari kemarahan terhadap sistem yang menurut mereka membuat manusia tetap berada dalam ketidaksadaran, mengikuti arus, dan tidak mempertanyakan keadaan.
Avisena Febrianto, vokalis FASELIMA, melihat kehidupan modern sebagai sesuatu yang tidak sesederhana kelihatannya. Kecurigaan tersebut sudah muncul dalam pikirannya bahkan sebelum pandemi COVID-19.
Menurut Avisena, berbagai kejadian di dunia membuatnya semakin tertarik mencari tahu tentang bagaimana kekuasaan dan sistem bekerja. Pandangannya kemudian semakin berkembang setelah pandemi dan berbagai peristiwa global yang ia ikuti.
Dari sana, muncul dorongan untuk ikut bersuara.
Bukan melalui politik atau kekuasaan, tetapi melalui musik.
“Saya juga ingin ikut berperang namun senjata saya ya lewat musik.”
Kalimat tersebut mungkin menjadi cara paling sederhana untuk memahami mengapa “Conspiracy” akhirnya lahir.
Ketika Musik Menjadi Senjata Untuk Melawan
Avisena tidak mengklaim dirinya sebagai seseorang yang memiliki kekuatan besar untuk mengubah dunia.
Justru sebaliknya.
Ia melihat dirinya sebagai seseorang yang ingin ikut berjuang melalui sesuatu yang memang bisa ia lakukan: menulis lagu.
Sebelum FASELIMA terbentuk, Avisena memang telah menulis lagu sejak masa kuliah. Namun, pada akhirnya ia mulai mencari tempat untuk merekam dan membawa tulisan-tulisan tersebut menjadi karya yang bisa didengar lebih banyak orang.
“Conspiracy” kemudian menjadi salah satu hasil dari proses tersebut.
Lagu ini membawa gagasan bahwa manusia sebenarnya memiliki potensi yang jauh lebih besar, tetapi dapat kehilangan kebebasan ketika berada dalam sistem yang menurut pandangan FASELIMA dibangun oleh kelompok yang memiliki kepentingan dan kekuasaan.
Di sinilah musik FASELIMA tidak berhenti pada ekspresi personal.
Mereka mencoba menjadikan lagu sebagai pemantik pertanyaan.
Benarkah semua yang kita lihat adalah kenyataan? Siapa yang menentukan narasi? Dan seberapa sering kita menerima sesuatu tanpa benar-benar mempertanyakannya?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi pemicu “Conspiracy” muncul.
Bukan Sekadar “Teori”, Bagi FASELIMA Ini tentang Realitas
Judul “Conspiracy” tentu langsung membawa pendengar pada satu kata yaitu konspirasi global.
Namun bagi FASELIMA, istilah tersebut tidak digunakan sekadar untuk menciptakan kesan misterius.
Avisena melihat lagu ini sebagai respons terhadap berbagai hal yang menurutnya terjadi di sekitar kehidupan manusia dimana kekuasaan, manipulasi informasi, kepentingan kelompok tertentu, hingga generasi muda yang menurutnya dapat diarahkan melalui hiburan dan figur yang keliru.
Pandangan tersebut menjadi dasar lirik yang menyerang sistem secara langsung.
Ada kemarahan terhadap mereka yang rela melakukan apa saja demi kekuasaan, bahkan ketika konsekuensinya adalah penderitaan orang lain.
Ada kritik terhadap fakta yang dapat diputarbalikkan.
Dan ada kekhawatiran terhadap generasi muda yang perlahan kehilangan kemampuan untuk mempertanyakan apa yang mereka konsumsi setiap hari.
Bagi FASELIMA, persoalannya bukan sekadar siapa yang benar atau salah.
Persoalannya adalah ketika manusia berhenti bertanya.
Riff Lebih Agresif, Emosi Lebih Meledak
Secara musikal, “Conspiracy” menunjukkan perkembangan dari rilisan-rilisan FASELIMA sebelumnya.
Pengaruh Black Veil Brides, Bullet for My Valentine, dan Escape the Fate terasa dalam pendekatan gitar yang lebih agresif, perubahan dinamika yang ekstrem, serta perpindahan antara bagian yang lebih tenang dengan ledakan yang penuh tekanan.
Vokal Avisena juga bergerak dari bagian melodis yang gelap menuju teriakan yang lebih konfrontatif.
Formula tersebut membuat pesan “Conspiracy” terasa semakin kuat.
Sebab, kemarahan dalam lagu ini tidak hanya berada pada lirik.
Ia juga muncul dari bagaimana gitar, drum, vokal, dan dinamika aransemennya dibangun.
Ada ketenangan sebelum ledakan datang.
Dan ketika ledakan itu datang, FASELIMA terdengar seperti tidak lagi ingin berbicara dengan suara pelan namun meledakkan semuanya.
MV yang Memvisualkan Dalang di Balik Layar
Official Music Video “Conspiracy” dirilis bersamaan dengan singlenya pada 4 September 2026.
Jika “Struggle Day” sebelumnya menggunakan pendekatan lyric video, kali ini FASELIMA membawa visual yang lebih gelap dan sinematik.
Menariknya, seluruh produksi MV dikerjakan sendiri oleh FASELIMA.
Salah satu simbol paling kuat muncul melalui adegan seseorang yang membacakan berita di depan kamera.
Ia bukan sedang sekadar menyampaikan informasi.
Dalam tafsir FASELIMA, sosok tersebut menjadi representasi media yang telah kehilangan fungsi sebagai penyampai kebenaran dan justru berubah menjadi alat pembentuk narasi.
Adegan tersebut kemudian terhubung dengan gagasan lain dalam MV dimana orang-orang yang terlihat memegang kendali sebenarnya bisa saja hanya menjadi boneka dari kekuatan yang tidak terlihat.
Visual lain memperlihatkan simbol keserakahan melalui suara dan tumpukan koin.
Satu sisi terus mengumpulkan kekayaan.
Di sisi lain, ada manusia yang kehilangan hampir segalanya.
Bagi FASELIMA, gambaran tersebut merepresentasikan keserakahan yang tidak mengenal kata cukup.
Bahkan ketika seseorang telah memiliki segalanya, keinginan untuk mendapatkan lebih masih terus berjalan.
Pada akhirnya, MV “Conspiracy” tidak hanya menjadi pendamping lagu.
Ia memperluas gagasan yang dibawa FASELIMA ke dalam bentuk simbol dan visual.
Empat Single, Album Masih Menunggu?
Setelah “Glory Is Near”, “Struggle Day”, “Broken Nation”, dan kini “Conspiracy”, FASELIMA belum buru-buru mengikat semuanya menjadi EP.
Band ini memilih untuk terus merilis single terlebih dahulu hingga materi yang terkumpul dirasa cukup.
Rencana album kemungkinan baru akan diwujudkan sekitar akhir 2027 atau paling lambat 2028.
Pilihan tersebut membuat perjalanan diskografi FASELIMA terasa seperti rangkaian bab yang terus berkembang.
Setiap single membawa persoalan dan sudut pandang berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu garis besar yaitu perjuangan manusia menghadapi tekanan dunia.
Dan jika “Conspiracy” menjadi indikasi arah mereka berikutnya, FASELIMA tampaknya tidak sedang mencari cara untuk membuat pendengarnya nyaman.
Mereka justru ingin membuat pendengar berhenti sebentar.
Melihat sekeliling.
Lalu bertanya:
“Sebenarnya, siapa yang sedang mengendalikan semua ini?”
Tentang FASELIMA

FASELIMA adalah band screamo/emo/post-hardcore asal Sidoarjo yang dibentuk dari gagasan Avi (vokal) untuk menjadikan musik sebagai ruang menyuarakan kebenaran dan keresahan.
Berawal dari Avi yang mulai menggarap lagu sendiri pada akhir 2024, FASELIMA kemudian merilis debut “Glory Is Near” pada 7 Februari 2025. Formasi pun berkembang dengan bergabungnya Vicky (drum), Erwin (bass), dan Taufan (gitar).
Musik FASELIMA banyak dipengaruhi post-hardcore, emo, screamo, dan metalcore era 2000-an, dengan karakter emo sebagai fondasi utama.
Sosial Media dan Streaming Faselima
- Instagram: @faselima.official
- TikTok: @faselima.official
- Spotify: FASELIMA
- Youtube: FASELIMA







Leave a Reply