Band alternatif asal Malang, Hyakushiki, kembali menyapa pendengar lewat single ketiga mereka berjudul “Semu”. Setelah melepas “Nemesism” pada Februari 2025, kali ini Hyakushiki tampil dengan warna musik baru yang lebih variatif, memadukan nuansa J-Pop dengan karakter khas mereka
Lagu “Semu” menggambarkan kisah seseorang yang ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan fenomena yang kini dikenal sebagai “ghosting”. “Kenapa ghosting? Karena hampir semua orang pernah merasakannya, entah dalam hubungan percintaan atau di keseharian,” ujar Welly, drummer Hyakushiki.
Judul “Semu” sendiri dipilih setelah melalui berbagai pertimbangan. Awalnya, Sandhi (bassist) mengusulkan judul Shadow yang diambil dari makna lirik lagu. Namun, agar tidak terasa terlalu kelam, mereka memilih versi terjemahan yang lebih lembut: Bayangan Semu, hingga akhirnya disingkat menjadi “Semu”.
Berbeda dari rilisan sebelumnya, kali ini Hyakushiki menonjolkan lirik berbahasa Indonesia agar lebih mudah diterima oleh pendengar luas. “Kami ingin menampilkan sesuatu yang lebih jujur dan emosional,” tambah Edo, sang keyboardist.
Bagi mereka yang mungkin merasa relate dengan “Semu”, Edo menyampaikan pesan hangat:
“Kalau lagu ini terasa menyakitkan, biarlah jadi ruang untuk melepas beban. Rindu boleh, kecewa juga tak apa yang penting tetap melangkah, meski dalam hati masih ada satu tanya: mengapa?”
Secara musikal, “Semu” menawarkan nuansa yang berbeda dari karya Hyakushiki sebelumnya. Dengan tambahan elemen string dan sentuhan jazz ala J-Pop, lagu ini memiliki struktur chord dan aransemen yang lebih kompleks. Sang produser, Decky, menyebut bahwa ide awal lagu ini berangkat dari keinginan untuk membuat premis sederhana dengan makna yang dalam.
Peran Decky pun diakui sangat penting. “Nggak bisa dimungkiri, Mas Decky memberikan warna baru di lagu ini. Chord dan nadanya lebih ‘hidup’, dengan karakter yang segar dan elegan,” tutur Oka, gitaris Hyakushiki.
Proses kreatif “Semu” juga penuh dinamika. Yovi, sang vokalis, mengaku sempat terkejut saat mendengar draft awal lagu karena adanya lirik berbahasa Jawa. Namun, setelah proses diskusi dan arahan dari sang produser, lagu ini berhasil dikemas menjadi versi final yang emosional dan matang.
Untuk promosinya, Hyakushiki akan tetap mengandalkan media sosial, komunitas, radio, dan media partner. Dengan dominasi lirik Indonesia, mereka juga berencana memperluas panggung penampilan ke luar ranah pop culture Jepang dan menjangkau audiens musik yang lebih luas.
Lewat “Semu”, Hyakushiki berharap karyanya bisa menyentuh lebih banyak pendengar di Indonesia dan menjadi teman bagi siapa pun yang pernah merasakan kehilangan tanpa penjelasan.
🎧 Single “Semu” sudah bisa kamu dengarkan di seluruh platform digital mulai 5 November 2025, di bawah naungan Pojok Nihon Music.
Artwork Lagu “Semu”








Leave a Reply