Di tengah berkembangnya skena shoegaze Indonesia, muncul nama baru yang menawarkan pendekatan berbeda. HYDOZE, unit experimental shoegaze asal Jakarta Timur, resmi memperkenalkan identitas musikal mereka melalui double single perdana bertajuk “Left With Pain & A Bad Year”.
Dibentuk pada 4 Maret 2026, HYDOZE hadir dengan eksplorasi yang tidak berhenti pada pakem shoegaze klasik. Mereka membawa pengaruh Midwest emo, eksperimen harmoni, hingga penggunaan tangga nada pelog yang membuat karakter musiknya terasa lebih personal sekaligus berani keluar dari zona nyaman.
HYDOZE Menghadirkan Shoegaze dengan Perspektif Baru

Meski seluruh personelnya masih menjalani kehidupan sebagai mahasiswa semester dua, mereka memilih tetap serius membangun HYDOZE sebagai ruang bereksperimen secara musikal.
Alih-alih mengikuti formula shoegaze yang identik dengan lapisan gitar tebal dan atmosfer melankolis semata, HYDOZE memasukkan berbagai referensi musik yang berasal dari latar belakang masing-masing personel. Hasilnya adalah komposisi yang tetap mengakar pada shoegaze, namun dihiasi lick bergaya Midwest emo serta sentuhan tangga nada pelog yang memberi warna berbeda.
“Left With Pain”, Potret Kehancuran yang Menjadi Tempat Pulang
Lagu pertama, “Left With Pain”, menjadi pintu masuk menuju dunia emosional HYDOZE.
Melalui atmosfer gitar yang mengawang dan vokal yang tenggelam dalam ambience, lagu ini berbicara tentang seseorang yang menemukan ketenangan justru ketika berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.
Alih-alih melawan rasa sakit, karakter dalam lagu ini memilih menerima kehancurannya sebagai bagian dari proses bertahan hidup.
Pendekatan tersebut diperkuat oleh lanskap suara yang perlahan membangun ketegangan emosional tanpa kehilangan nuansa dreamy khas shoegaze.
“A Bad Year”, Kisah Cinta yang Berakhir Menjadi Penyesalan
Sementara itu, “A Bad Year” membawa narasi yang lebih linear.
Lagu ini menceritakan perjalanan hubungan dua insan yang berawal dari rasa penasaran, berkembang menjadi romansa, lalu perlahan runtuh akibat konflik yang tak terselesaikan.
Di penghujung cerita, tokoh utama hanya menyisakan penyesalan dan memori yang terus menghantuinya.
Kisah tersebut kemudian menjadi jembatan emosional menuju “Left With Pain”, seolah kedua lagu ini merupakan dua bab dalam satu cerita yang saling berkaitan.
Eksplorasi Musik yang Lahir dari Kolaborasi Seluruh Personel
Secara musikal, kedua lagu ini mulai digarap sejak awal HYDOZE terbentuk oleh Athalla dan Darren.
Seiring berkembangnya band, Syalwa, Grego, dan Teresia ikut memberikan kontribusi besar dalam menyempurnakan aransemen hingga menemukan karakter yang kini menjadi identitas HYDOZE.
Pendekatan kolektif tersebut membuat musik mereka terasa organik. Setiap personel membawa pengaruh musikal berbeda, namun tetap diarahkan menuju satu benang merah: menghadirkan shoegaze yang atmosferik sekaligus eksperimental.
Produksi Mandiri yang Menegaskan Semangat DIY
HYDOZE juga menjalankan sebagian besar proses produksinya secara independen.
Mulai dari penulisan lagu, aransemen, proses rekaman, produksi, hingga mixing dan mastering dikerjakan sendiri oleh para personelnya.
Langkah ini memperlihatkan semangat DIY yang menjadi fondasi perjalanan awal HYDOZE sebagai band independen.
Awal Perjalanan Menuju Identitas Musikal
Melalui “Left With Pain & A Bad Year”, HYDOZE belum berusaha menjadi band shoegaze yang mengikuti arus.
Sebaliknya, mereka memilih membangun identitas lewat eksperimen, atmosfer emosional, dan keberanian menggabungkan berbagai elemen musik yang jarang dipertemukan dalam satu komposisi.
Double single ini menjadi langkah awal yang menjanjikan sekaligus membuka arah perjalanan HYDOZE ke depan sebagai salah satu nama baru yang layak diperhatikan di skena shoegaze Indonesia.
Tentang HYDOZE
HYDOZE merupakan unit experimental shoegaze asal Jakarta Timur yang terbentuk pada 4 Maret 2026. Beranggotakan Teresia (vokal), Athalla (gitar), Darren (gitar), Syalwa (bass), dan Grego (drum), mereka mengembangkan karakter musik yang memadukan shoegaze dengan berbagai elemen eksperimental seperti Midwest emo dan tangga nada pelog. Melalui pendekatan DIY dan eksplorasi musikal yang terbuka, HYDOZE berupaya menghadirkan lanskap suara yang emosional, atmosferik, sekaligus berbeda dari pakem shoegaze pada umumnya.
Sosial Media dan Streaming HYDOZE
- Instagram: @hydoze_
- YouTube: https://www.youtube.com/playlist?list=OLAK5uy
- Spotify: https://open.spotify.com/album/11HpBcFhp10v9ktu10WugN







Leave a Reply